Ketentuan fi’il dalam alfiyah

Adapun bait yang menjelaskan Ketentuan fi’il dalam alfiyah, ialah pada bait

فعل مضارع يلى لم كيشم

وماضي الأفعال بالتا مز وسم*بالنون فعل الأمر إن أمر فهم

Seperti yang telah di ketahui bahwa kalimat dalam bahasa Arab terbagi 3 yaitu kalimat fi’il, isim, dan juga kalimat huruf. Di antara dalilnya ialah dalam matan jurumiyah, yaitu; وأقسامه ثلاثة إسم وفعل وحرف جاء لمعنى. Namun yang akan di bahas di sini ialah kalimat fi’il, juga kalimat fi’il terbagi 3, yaitu fi’il madhi, seperti نصر. Kemudian fi’il mudhari seperti ينصر, terus yang terakhir yaitu fi’il amar seperti أنصر.

Ketentuan fi'il dalam alfiyah

Untuk membedakan di antara ketiga fi’il tersebut ialah dengan masing-masing tanda, sebab di antara ketiga fi’il tersebut memiliki tanda yang berbeda-beda. Kemudian fi’il juga memiliki 3 zaman, yaitu zaman madhi, kemudian zaman hal, dan juga zaman istikbal.

Ketentuan fi’il dalam alfiyah (masing-masing 3 fi’il tersebut memiliki tanda yang berbeda).

Di antara tanda fi’il mudhari menurut alfiyah ialah syah di masuki a’mil jawazim. Jumlah a’mil jawazim menurut kitab jurumiyah ada 18 yaitu, لم، لما، الم، الما، لام امر،لام الدعاء، لانهي، لادعاء، ان، ما، مهما،اذ، اذما،اي، متى، اين، ايان، انى، حيثما،كيفما،اذا. Jika menurut kitab jurumiyah, tanda dari pada fi’il mudhari, ialah ماكان فى أوله إحدى الزوائد الأربع “setiap fi’il yang di awali dengan salah satu dari huruf jaidah yang 4”.

Yang di maksud dengan huruf jaidah yang 4 ialah Hamzah, seperti أنصر, kemudian nun, seperti ننصر, terus ya, seperti تنصر. Kemudian yang terakhir huruf jaidah yang menjadi tanda pada fi’il mudhari ialah huruf ta, contoh seperti تنصر.

Selanjutnya fi’il amar, untuk cara mengetahui bahwa fi’il tersebut adalah fi’il amar, terlebih dahulu kita harus mengetahui tanda fi’il amar. Adapun di antara tanda fi’il amar menurut alfiyah ialah syah di masuki nun taukid. Contoh seperti انصرن.

Kemudian di antara tanda fi’il madhi, menurut kitab alfiyah ialah fi’il tersebut syah di masuki ta. Yang di maksud dengan ta di sini ialah ta dhamir, seperti نَصَرْتُ, dan juga ta ta’nis sukun, contoh seperti نَصَرَتْ.

https://tokopedia.link/Ri6qPB1qmqb

Pengertian fi’il dalam Al-fatihah

Yang di maksud dengan Pengertian fi’il dalam Al-fatihah ialah mengetahui jumlah fi’il yang ada dalam surat tersebut.

Adapun jumlah kalimat fi’il dalam surat alfatihah itu ada ada 4, yaitu dalam ayat ke lima 2. Kemudian 1 pada ayat ke enam, dan satu lagi pada ayat ke tujuh. Pada ayat ke lima yaitu lafadz نعبد, dan juga lafadz نستعين, kemudian ayat ke enam lafadz اهد, terus ayat ke tujuh lafadz أنعمت.

Pengertian fi'il dalam Al-fatihah

Yang termasuk kalimat fi’il surat Al-fatihah ada 4 lafadz (Pengertian fi’il dalam Al-fatihah).

1.lafadz نعبد, menurut ilmu Sharaf lafadz tersebut termasuk dalam kategori fi’il salim. Termasuk dalam fi’il tsulatsi mujarrad, arti dari kata tsulatsi ialah huruf asalnya 3. Kemudian arti mujarrad ialah tidak ada huruf jaidah pada Lafadz tersebut, untuk sighatnya (bentuk) termasuk dalam fi’il mudhari mabni fa’il.

Adapun tanda mudhari nya pada lafadz نعبد, ialah huruf nun, sebab nun termasuk salah satu dari tanda huruf mudhara’ah. Untuk ma’na nun tersebut ialah mutakalim ma’alghair.

Kemudian jika menurut ilmu nahwu lafadz نعبد hukumnya mu’rab, untuk i’rabnya termasuk i’rab harakat. Juga lafadz tersebut termasuk dalam kategori Kalimat fi’il, fi’il nya termasuk fi’il mudhari. Sebab Kalimat fi’il menurut ilmu nahwu terbagi 3 yaitu madhi, mudhari, amar.

2.lafadz نستعين, lafadz tersebut menurut ilmu Sharaf termasuk dalam fi’il ghair Salim. Sebab lafadz tersebut termasuk dalam kategori fi’il mu’tal, sedangkan fi’il mu’tal termasuk fi’il ghair Salim. Juga mu’tal nya termasuk mu’tal a’in tsulatsi Mazid, arti mu’tal a’in yaitu a’in fi’il nya dengan huruf illat. Kemudian arti dari kata Mazid yaitu pada lafadz tersebut di tambahkan huruf jaidah, adapun yang menjadi huruf jaidah pada lafadz نستعين ada 2 yaitu Shin, dan juga huruf ta. Juga untuk sighatnya lafadz tersebut termasuk dalam fi’il mudhari mabni fa’il.

3.kemudian lafadz اهد, menurut ilmu sharaf lafadz tersebut termasuk dalam tashrifan fi’il amar mu’tal lam. Definisi dari pada mu’tal lam yaitu “setiap fi’il yang lam fi’il nya dari huruf illat, entah itu wau atau pun ya”. Akan tetapi jika menurut ilmu nahwu Lafadz tersebut termasuk dalam fi’il mu’tal akhir.

4.yang terakhir ialah Lafadz أنعمت, lafadz tersebut termasuk kalimat fi’il, fi’il termasuk fi’il madhi. Untuk ma’na nya lafadz tersebut ialah mufrad mudzakar mukhatab.

https://tokopedia.link/hlUMwKbp2pb

I’rab fi’il dan hukumnya

Fi’il merupakan salah satu kalimat dalam bahasa Arab. Sebab Kalimat dalam bahasa Arab menurut ilmu nahwu terbagi 3 yaitu Isim, fi’il, dan juga haraf. Adapun Pembahasan yang bersangkutan dengan kalimat fi’il di antara nya ialah I’rab fi’il dan hukumnya.

I'rab fi'il dan hukumnya

Adapun Pembagian dari pada kalimat fi’il terbagi 3 yaitu fi’il madhi, seperti نصر, kemudian fi’il mudhari, seperti ينصر. Terus fi’il amar, seperti أنصر, untuk referensi kalimat fi’il terbagi 3, dalam kitab jurumiyah (باب الأفعال).

Pembahasan I’rab fi’il dan hukumnya menurut ilmu nahwu.

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya bahwa fi’il terbagi 3 yaitu madhi, mudhari, amar. Dari ketiga fi’il tersebut dalam hukumnya terbagi 2, yaitu mu’rab, dan juga mabni. Untuk fi’il yang hukumnya mu’rab, dalam i’rabnya terbagi 3 yaitu rafa’, seperti يُنْصُرُ, kemudian i’rab nashab. Seperti لَنْ يَنْصُرَ, terus i’rab jazm, seperti لَمْ يَنْصُرْ.

Kemudian fi’il yang hukumnya mabni, dalam mabni nya terbagi 2 yaitu mabni sukun seperti اُنْصُرْ, dan juga mabni harakat. Seperti harakat Fathah dalam fi’il madhi yang ma’na nya mufrad mudzakar ghaib, seperti نَصَرَ.

Fi’il yang hukumnya mu’rab.

Menurut kitab الفواكه الجنية, kalimat fi’il yang hukumnya mu’rab, yaitu fi’il mudhari yang akhir huruf nya tidak bertemu dengan nun jamak muannas. Kemudian tidak bertemu dengan nun taukid mubasir, contoh seperti tadi yaitu ينصر.

Untuk i’rabnya terbagi 3 yaitu i’rab rafa’, tandanya dhammah, kemudian i’rab nashab, di tandai dengan Fathah, terus i’rab jazm, di tandai dengan sukun.

Fi’il yang hukumnya mabni.

Fi’il yang hukumnya mabni ada dua yaitu fi’il madhi seperti نصر, dan juga fi’il amar seperti أنصر.

Untuk mabni nya terbagi dua yaitu mabni sukun, seperti fi’il madhi yang bertemu dengan dhamir Mutaharik marfu’, contoh نَصَرْتُ. Kemudian yang kedua ialah mabni harakat, untuk harakat nya terbagi 3 yaitu Fathah seperti نصر. Selanjutnya dhammah seperti نصروا, kemudian mabni kashrah. Seperti dalam fi’il yang ma’na nya mufrad muannas, contoh أنصري.

https://tokopedia.link/8ZCjQjo5Vpb

Hukum idgham fi’il mudha’af

Seperti yang telah di ketahui bahwa Hukum idgham fi’il mudha’af terbagi 3 yaitu wajib idgham. Seperti dalam tashrifan fi’il madhi yang tidak bertemu dengan dhamir muttasil barij Mutaharik marfu’, seperti مد.

Hukum idgham fi'il mudha'af


Kemudian yang kedua ialah mumtani’ idgham (di larang idgham), seperti dalam tashrifan fi’il madhi yang bertemu dengan dhamir muttasil barij Mutaharik marfu’. Contoh seperti مددت, yang di sebut dhamir muttasil barij Mutaharik marfu’ialah lafadz ت, ma’na nya mutakalim wahdah.

Selanjutnya yang terakhir dari hukum idgham ialah jawaz idgham (bisa idgham, bisa juga tidak idgham). Contoh seperti dalam tashrifan fi’il amar mudha’af, contoh idgham مُدَّ, contoh tidak idgham seperti ْاُمْدُد.

Hukum idgham fi’il mudha’af yang wajib.

Di antara tashrifan mudha’af yang idgham nya wajib yaitu dalam fi’il madhi yang tidak bertemu dengan dhamir muttasil Mutaharik marfu’. Contoh seperti مدّ, kemudian dalam fi’il mudhari yang tidak bertemu dengan nun jamak muannas, contoh seperti يمد. Kemudian dalam tashrifan mashdar nya, seperti مدا, terus isim fa’il seperti ماد, dan lain sebagainya.

Tashrifan fi’il mudha’af yang mumtani’ idgham.

Hukum idgham yang kedua ialah mumtani’ idgham, di antara tashrifan mudha’af yang mumtani’idgham, yaitu dalam fi’il madhi, yang bertemu dengan dhamir muttasil barij Mutaharik marfu’, contoh seperti مددت, kemudian dalam tashrifan isim maf’ul nya seperti ممدود, dan lain sebagainya.

Tashrifan fi’il mudha’af yang jawaz idgham.

Kemudian hukum fi’il mudha’af yang terakhir ialah jawaz (bisa idgham, bisa juga tidak idgham). Tashrifan mudha’af yang jawaz idgham yaitu dalam fi’il amar nya, contoh idgham seperti مدّ, contoh tidak idgham seperti امدد.

Kemudian tashrifan mudha’af yang hukum idgham nya terbagi 3 yaitu cuma mudha’af tsulatsi (mujarrad dan Mazid). Adapun tashrifan mudha’af rubai’ (mujarrad dan Mazid) itu tidak idgham, sebab dalam fi’il rubai’tidak kumpul 2 huruf sejenis. Sebab definisi dari pada mudha’af rubai’ (mujarrad dan Mazid) yaitu setiap fi’il yang Huruf fa fi’il nya sama dengan lam fi’il awal. Kemudian a’in fi’il nya sama dengan lam fi’il Tsani, contoh mudha’af rubai’ seperti زلزل.

https://tokopedia.link/3SgIQlpyVpb

Maf’ul bih fa’il fi’il

Kalimat bahasa Arab yang mufidz ialah suatu lafadz bahasa Arab yang tersusun dari Fi’il, kemudian fa’il, dan juga maf’ul bih. Adapun perbedaan di antara Maf’ul bih fa’il fi’il yaitu, jika maf’ul bih ialah objek.

madhi, hal, istikbal,

Kemudian jika fi’il ialah pekerjaan, terus arti dari pada fa’il ialah orang, atau makhluk yang memiliki pekerjaan tersebut.

Contoh seperti ضرب زيد خالدا, fi’il nya lafadz ضرب, untuk ma’na nya ialah memukul, kemudian Lafadz زيد, kedudukan nya sebagai fa’il. Yang memiliki pekerjaan tersebut yaitu memukul, selanjutnya lafadz خالدا maf’ul bih, atau objek dari pekerjaan yang di lakukan oleh fa’il.

Perbedaan antara Maf’ul bih fa’il fi’il di dalam kalimat bahasa Arab.

Seperti yang telah di ketahui bahwa kalimat dalam bahasa Arab terbagi 3 yaitu isim fi’il dan juga haraf. Adapun definisi dari pada fi’il ialah “pekerjaan”, kemudian fi’il terbagi menjadi 3 yaitu fi’il madhi. Seperti نصر, kemudian fi’il mudhari seperti ينصر, selanjutnya fi’il amar seperti أنصر.

Adapun di antara perbedaan Kalimat fi’il dengan yang lainnya ialah, jika fi’il memiliki zaman yang 3. Yaitu zaman madhi, zaman hal, dan juga istikbal, namun jika kalimat yang lain nya tidak memiliki zaman.

Kemudian setiap fi’il tentu setelah nya harus ada fa’il contoh seperti tadi ضرب زيد, yang jadi contoh lafadz زيد. Fa’il nya dalam contoh tersebut termasuk fa’il yang di buat dari isim Zahir.

Sebab fa’il terbagi menjadi 2 yaitu fa’il isim zhahir seperti tadi, dan juga fa’il isim dhamir. Seperti fa’il yang ada pada fi’il mudhari mufrad mudzakar ghaib, contoh seperti ينصر, untuk takdir fa’il nya dalam lafadz tersebut ialah هو.

Kemudian yang terakhir ialah maf’ul bih, contoh seperti tadi yaitu ضرب زيد خالدا, yang jadi contoh maf’ul bih yaitu lafadz خالدا. Untuk i’rabnya nashab, sebab maf’ul bih merupakan salah satu dari isim yang wajib nashab.

Dan juga maf’ul bih dalam contoh tersebut termasuk maf’ul bih isim zhahir, sebab maf’ul bih terbagi 2 yaitu zhahir dan dhamir.

https://tokopedia.link/lDc09r7fRpb

Perbedaan madhi mudhari amar

Kalimat dalam bahasa Arab menurut ilmu nahwu terbagi menjadi 3 yaitu Isim, fi’il, dan juga haraf. Adapun dalil dari pada kalimat terbagi 3, yaitu dalam kitab jurumiyah. Namun yang akan di bahas di artikel ini ialah Kalimat fi’il, fi’il terbagi menjadi 3 yaitu madhi, mudhari, dan juga fi’il Amar. Adapun Perbedaan madhi mudhari amar, ialah jika fi’il madhi seperti Lafadz نَصَرَ. Kemudian jika fi’il mudhari seperti يَنْصُرُ, selanjutnya contoh fi’il Amar seperti اُنْصُرْ.

Perbedaan madhi mudhari amar

Perbedaan madhi mudhari amar menurut kitab الفواكه الجنية.

Untuk cara mengetahui bahwa kalimat tersebut merupakan fi’il madhi, atau mudhari atau juga amar. Kita bisa mengetahui masing-masing dari tanda Kalimat fi’il tersebut. Dan ketiga fi’il tersebut memiliki ketentuan masing-masing, dan memiliki zaman yang berbeda-beda.

Tanda fi’il madhi.

Di antara tanda dari pada fi’il madhi ialah Lafadz tersebut Syah menerima ta ta’nis yang sukun. Contoh seperti tadi yaitu نَصَرَ, Lafadz tersebut Syah di masuki ta ta’nis yang sukun, contoh di masuki ta ta’nis sukun seperti نَصَرَتْ.

Kemudian untuk zaman fi’il madhi tentu zaman nya zaman madhi (waktu yang sudah berlalu). Juga termasuk kedalam kategori fi’il madhi menurut kaol ashah yaitu lafadz نِعْمَ، بِئْسَ، لَيْسَ، عَسَى.

Tanda fi’il mudhari.

Untuk membedakan fi’il mudhari dengan fi’il yang lain nya, ialah fi’il mudhari syah di lafadz saufa, dan juga sin tanfis. Dan juga syah di masuki a’mil nawasib dan juga a’mil jawazim.

Contoh fi’il mudhari yang di masuki Lafadz saufa, dan Shin tanfis seperti ُسَوْفَ يَنْصُرُ، سَيَنْصُر, contoh yang di masuki a’mil nawasib. Seperti Lafadz لَنْ يَنْصُرَ, contoh fi’il mudhari yang di masuki jawazim seperti لَمْ يَنْصُرْ. Kemudian untuk zaman nya fi’il mudhari bisa hal, dan juga bisa zaman istikbal.

Tanda fi’il amar.

Bagian fi’il yang terakhir ialah fi’il amar, adapun tanda dari pada fi’il amar ialah lafadz nya syah menerima ya muannas mukhatabah. Contoh seperti fi’il amar dari lafadz نَصَرَ, yaitu lafadz اُنْصُرْ, contoh di masuki ya muannas mukhatabah, jadi di baca اُنْصُرِيْ. Adapun untuk zaman nya tentu, yaitu zaman istikbal (waktu yang akan datang).

https://infosepakbola.my.id/

Pembahasan fi’il

Fi’il adalah kata kerja, untuk mengetahui Kalimat fi’il dalam suatu lafadz kita harus mengetahui definisi dari pada kalimat fi’il. Dan juga tanda fi’il, atau terlebih dahulu kita harus mengetahui Pembahasan fi’il. Adapun Pembahasan mengenai Kalimat fi’il ada 5, dalilnya dalam syarah العشماوي yaitu;

والفعل يتعلق به أيضا مباحث خمسة الأول فى معناه لغة واصطلاحا والثانى فى حكمه والثالث فى اشتقاقه والرابع فى اقسامه والخامس فى علاماته

Pembahasan fi'il

Pembahasan fi’il.

Pembahasan yang pertama mengenai Kalimat fi’il ialah membahas definisi, atau ta’rif Kalimat fi’il. Ta’rif fi’il terbagi 2 yaitu;

1.menurut لغة (lughot) yaitu “الحدث” yang artinya “pekerjaan”. Misalnya ضَرَبَ.

2.menurut اصطلاح (istilah), fi’il menurut istilah adalah;

كلمة دلت على معنى فى نفسها مقترنة بأحد الأزمنة الثلاثة وضعا.
“Ucapan yang menunjukkan ma’na tersendiri, serta di barengi dari salah satu zaman yang 3”.

Yang di maksud dengan zaman yang 3 yaitu;
-zaman madhi, artinya “waktu yang sudah berlalu”. Misalnya جَلَسَ.
-zaman yang kedua ialah zaman hal. Misalnya يَجْلِسُ.
-zaman yang ketiga adalah zaman istikbal, artinya “waktu yang akan datang”. Misalnya إِجْلِسْ.

Yang kedua membahas hukum dari pada kalimat fi’il. Adapun hukum Kalimat fi’il terbagi 2 yaitu;
-jika fi’il nya fi’il madhi dan juga fi’il amar maka di hukumi mabni.
-jika fi’il nya termasuk fi’il mudhari maka hukumnya mu’rab.

Pembahasan yang ketiga membahas اشتقاق (istihkok), yang artinya “asal lafadz fi’il di ambil dari kata apa”. Adapun kalimat fi’il di buat dari Masdar, jadi asal mula fi’il ialah Masdar, itu menurut ulama Basrah.

Ke empat Pembahasan mengenai Kalimat fi’il ialah membahas Pembagian fi’il. Adapun fi’il terbagi menjadi 3 yaitu; fi’il madhi, fi’il mudhari, dan juga fi’il amar.

Pembahasan fi’il yang terakhir ialah membahas tanda dari pada kalimat fi’il. Tanda Kalimat fi’il ada 4, dalilnya dalam kitab jurumiyah, yaitu;
والفعل يعرف بقد والسين وسوف وتاء التأنيث الساكنة.

-tanda fi’il yang pertama ialah syah di masuki lafadz قد. Contoh قام, di masuki lafadz قد jadi قد قام.
-yang kedua ialah syah di masuki sin contoh seperti يضرب, di masuki sin jadi سيضرب.
-tanda fi’il yang ketiga ialah syah di masuki lafadz سوف. Contoh seperti تعلمون, di masuki سوف, jadi di baca سوف تعلمون.
-tanda fi’il yang terakhir ialah ta ta’nis yang sukun. Misalnya نصر di masuki ta ta’nis yang sukun menjadi نصرت.

https://infosepakbola.my.id

Perbedaan isim fi’il haraf

Seperti yang telah ditetapkan dalam bahasa Arab, bahwa kalimat terbagi 3, yaitu isim, fi’il, haraf. Adapun Perbedaan isim fi’il haraf di antaranya memiliki masing-masing tanda yang berbeda. Dalilnya Kalimat terbagi menjadi 3 di dalam kitab jurumiyah;

وأقسامه ثلاثة إسم وفعل وحرف جاء لمعنى

Perbedaan isim fi'il haraf

Perbedaan isim fi’il haraf.

Dan juga memiliki hukum yang berbeda. Dalam hukum nya terbagi 2 yaitu; mu’rab dan juga mabni. Adapun hukum dari pada kalimat isim adalah mu’rab. Dan juga hukum fi’il terbagi 2 yaitu; jika fi’il nya fi’il mudhari maka hukumnya mu’rab. Akan tetapi jika fi’il nya, fi’il madhi maka hukumnya mabni. Dan juga fi’il yang di hukuman mabni ialah fi’il Amar. Selain itu haraf juga hukum nya mabni.

Contoh kalimat isim seperti , lafadz tersebut termasuk kalimat isim, isimnya termasuk isim zhahir. Kemudian tanda isim pada lafadz tersebut adalah tanwin, dalilnya dalam kitab jurumiyah;

فالإسم يعرف بالخفض والتنوين ودخول الألف واللام وحروف الخفض.

Dan juga lafadz tersebut hukumnya mu’rab, yang i’rabnya termasuk i’rab harakat.

Contoh kalimat fi’il seperti قام lafadz tersebut termasuk kalimat fi’il, yang tandanya Syah di masuki ta ta’nis yang sukun. Contoh di masuki ta ta’nis yang sukun jadi قامت. Dan juga lafadz tersebut termasuk fi’il madhi. Sebab fi’il terbagi menjadi 3, yaitu;

1.fi’il madhi, untuk zaman nya tentu zaman madhi. Adapun ma’na dari pada zaman madhi ialah waktu yang sudah berlalu atau sudah terlewati.

2.fi’il mudhari, definisi dari pada fi’il mudhari “lafadz yang menunjukkan pada kejadian atau perbuatan atau juga peristiwa yang sedang berlangsung atau juga yang akan datang”. Misalnya يَجْلِسُ, untuk ma’na sedang duduk atau akan duduk.

Jika lafadz يجلس di ma’nai “sedang duduk”, maka termasuk zaman hal. Dan jika lafadz يجلس di ma’nai “akan duduk”, maka zaman nya tentu istikbal.

3.fi’il amar contoh seperti إجلس untuk hukum fi’il Amar mabni.

Contoh kalimat haraf seperti من, lafadz tersebut termasuk kalimat Haraf. Adapun hukum dari pada kalimat Haraf ialah mabni dalilnya;
وكل حرف مستحق للبنا.
“Semua kalimat haraf hukum nya mabni”.

https://infosepakbola.my.id

Pembagian fi’il

Pembagian i’rab Dalam bahasa Arab Kalimat terbagi menjadi 3, yaitu;isim, fi’il,haraf. Namun yang akan di bahas di artikel ini ialah fi’il, atau membahas Pembagian fi’il. Fi’il terbagi menjadi 3 yaitu; fi’il madhi, fi’il mudhari, fi’il Amar.

Pembagian fi’il.

Fi’il adalah kata kerja adapun definisi dari pada fi’il ialah;

كلمة دلت على معنى بنفسها واقترنت بأحد الأزمنة الثلاثة وضعا

“ucapan yang menunjukkan ma’na mandiri dan juga di sertai dengan salah satu zaman yang 3(madhi, hal, istikbal).

Fi’il terbagi menjadi 3 yaitu madhi, mudhari, amar. Adapun dalil fi’il terbagi 3 dalam kitab jurumiyah yaitu;

وأقسامه ثلاثة ماض ومضارع وأمر.

Pembagian fi'il

Pengertian fi’il madhi dan tanda nya.

Fi’il adalah kata kerja, arti dari pada madhi ialah waktu, atau perbuatan yang sudah berlalu. Jadi definisi dari pada fi’il madhi ialah;

ما دل على حدث مضى وانقضى

“Ucapan yang menunjukkan perbuatan yang sudah berlalu”. Contoh قام زيد yang jadi contoh lafadz قام ma’na nya telah berdiri. Dan lagi hukum dari pada fi’il madhi ialah mabni Fathah.

Tanda fi’il madhi أن يقبل تاء التأنيث, tanda dari pada fi’il madhi ialah sering di masuki ta ta’nis yang di sukun kan. Contoh ضَرَبَ di masuki ta ta’nis yang di sukun kan menjadi ضَرَبَتْ.

Pengertian fi’il mudhari dan tandanya.

Adapun definisi dari pada fi’il mudhari ialah;
ما دل على حدث يقبل الحال والإستقبال.
“Lafadz yang menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung dan juga yang akan datang”. Kemudian tanda dari pada fi’il mudhari ialah, Syah di masuki sin, saufa, dan juga Syah di masuki a’mil nawasib dan juga a’mil jazm. Misalnya سيقول، سوف تعلمون، لم ينصر، لن ينصر. Dan lagi hukum dari pada fi’il mudhari ialah mu’rab.

Pengertian fi’il Amar.

Definisi dari pada fi’il Amar ialah;
ما دل على حدث فى المستقبل

“Lafadz yang menunjukkan kejadian pada masa yang akan datang”. Misalnya قُمْ. Untuk ma’na nya hendaklah berdiri kamu, atau seperti إجلس.

https://wa.me/6281573692156