Dalil mudhari dihukumi mu’rab

Seperti yang telah di ketahui, bahwa hukum kalimat fi’il menurut ilmu nahwu terbagi dua, yaitu mu’rab dan juga mabni. Adapun fi’il yang hukumnya mu’rab ialah fi’il mudhari yang huruf akhir pada mudhari tidak bertemu dengan apapun. Untuk Dalil mudhari dihukumi mu’rab, yaitu pada kitab alfiyah, dalam bait;


واعربوا مضارعا إن عريا
من نون التوكيد مباشر ومن*نون إناث كيرعن من فتن

Dalil mudhari dihukumi mu'rab

Bait tersebut menjelaskan, bahwa fi’il mudhari dalam hukum nya ialah mu’rab, jika fi’il mudhari tersebut tidak bertemu dengan nun taukid mubasir. Dan juga nun jamak muannas, contoh seperti ينصر, untuk hukum nya, lafadz tersebut ialah mu’rab. Sebab lafadz tersebut (ينصر) kosong dari nun taukid mubatsir, dan juga nun jamak muannas.

Namun jika fi’il Mudhari bertemu dengan nun taukid mubatsir, atau nun jamak muannas, maka hukum fi’il mudhari tersebut menjadi mabni. Contoh fi’il mudhari yang bertemu dengan nun taukid mubatsir, seperti هل تقومن, yang jadi contoh lafadz تقومن, lafadz tersebut termasuk dalam kategori Kalimat fi’il. Fi’il nya termasuk fi’il mudhari, untuk hukumnya lafadz tersebut, ialah di hukumi mabni. Sebab mudhari tersebut bertemu dengan nun taukid mubatsir, untuk mabni nya termasuk mabni sukun.

Contoh fi’il mudhari yang bertemu dengan nun jamak muannas, seperti يرعن من فطن, yang jadi contoh lafadz يرعن.

Untuk i’rabnya fi’il mudhari yang di hukumi mu’rab terbagi dua, yang pertama di i’rabi oleh huruf seperti ينصران, yang kedua ialah fi’il mudhari i’rabnya oleh harakat, contoh seperti ينصر.

Fi’il mudhari yang di i’rabi oleh harakat, dalam harakat nya terbagi 3, yaitu harakat dhammah, seperti ينصر, kemudian harakat Fathah. Dan juga harakat sukun, seperti لم ينصر, harakat dhammah menjadi tanda pada i’rab rafa’, kemudian Fathah menjadi tanda pada i’rab nashab. Selanjutnya harakat sukun menjadi tanda pada i’rab jazm.

Dalil mudhari dihukumi mu’rab

Di antara dalilnya yang di pakai buat sandaran, bahwa fi’il mudhari hukumnya mu’rab, ialah dalam kitab alfiyah, dalam bait واعربوا مضارعا.. كيرعن من فتن.

https://tokopedia.link/1SR1e3wZpqb

Ketentuan fi’il dalam alfiyah

Adapun bait yang menjelaskan Ketentuan fi’il dalam alfiyah, ialah pada bait

فعل مضارع يلى لم كيشم

وماضي الأفعال بالتا مز وسم*بالنون فعل الأمر إن أمر فهم

Seperti yang telah di ketahui bahwa kalimat dalam bahasa Arab terbagi 3 yaitu kalimat fi’il, isim, dan juga kalimat huruf. Di antara dalilnya ialah dalam matan jurumiyah, yaitu; وأقسامه ثلاثة إسم وفعل وحرف جاء لمعنى. Namun yang akan di bahas di sini ialah kalimat fi’il, juga kalimat fi’il terbagi 3, yaitu fi’il madhi, seperti نصر. Kemudian fi’il mudhari seperti ينصر, terus yang terakhir yaitu fi’il amar seperti أنصر.

Ketentuan fi'il dalam alfiyah

Untuk membedakan di antara ketiga fi’il tersebut ialah dengan masing-masing tanda, sebab di antara ketiga fi’il tersebut memiliki tanda yang berbeda-beda. Kemudian fi’il juga memiliki 3 zaman, yaitu zaman madhi, kemudian zaman hal, dan juga zaman istikbal.

Ketentuan fi’il dalam alfiyah (masing-masing 3 fi’il tersebut memiliki tanda yang berbeda).

Di antara tanda fi’il mudhari menurut alfiyah ialah syah di masuki a’mil jawazim. Jumlah a’mil jawazim menurut kitab jurumiyah ada 18 yaitu, لم، لما، الم، الما، لام امر،لام الدعاء، لانهي، لادعاء، ان، ما، مهما،اذ، اذما،اي، متى، اين، ايان، انى، حيثما،كيفما،اذا. Jika menurut kitab jurumiyah, tanda dari pada fi’il mudhari, ialah ماكان فى أوله إحدى الزوائد الأربع “setiap fi’il yang di awali dengan salah satu dari huruf jaidah yang 4”.

Yang di maksud dengan huruf jaidah yang 4 ialah Hamzah, seperti أنصر, kemudian nun, seperti ننصر, terus ya, seperti تنصر. Kemudian yang terakhir huruf jaidah yang menjadi tanda pada fi’il mudhari ialah huruf ta, contoh seperti تنصر.

Selanjutnya fi’il amar, untuk cara mengetahui bahwa fi’il tersebut adalah fi’il amar, terlebih dahulu kita harus mengetahui tanda fi’il amar. Adapun di antara tanda fi’il amar menurut alfiyah ialah syah di masuki nun taukid. Contoh seperti انصرن.

Kemudian di antara tanda fi’il madhi, menurut kitab alfiyah ialah fi’il tersebut syah di masuki ta. Yang di maksud dengan ta di sini ialah ta dhamir, seperti نَصَرْتُ, dan juga ta ta’nis sukun, contoh seperti نَصَرَتْ.

https://tokopedia.link/Ri6qPB1qmqb