Isim dhamir termasuk mabni

Seperti yang telah di ketahui sebelumnya, bahwa. Terbagi dua yaitu isim yang hukumnya mu’rab, dan juga isim yang hukumnya mabni. Namun yang akan di bahas di sini ialah isim yang hukumnya mabni, di antara isim yang mabni ialah isim istifham. Kemudian juga menurut kitab الفواكه الجنية Isim dhamir termasuk mabni.

Adapun illat mabni nya menurut kitab tersebut, ialah karena isim dhamir menyerupai pada kalimat huruf, dalam ma’na nya. Sedangkan kalimat huruf dalam hukum nya termasuk hukum mabni.

Isim dhamir termasuk mabni

Kalimat isim dhamir dalam mabni nya terbagi dua, yaitu mabni sukun, dan juga mabni harakat. Namun yang menjadi asal pada mabni, ialah sukun, contoh mabni sukun pada kalimat isim, seperti lafadz نَصَرَتْ, yang jadi contoh ialah harakat sukun pada huruf ت.

Kemudian mabni harakat dalam kalimat isim terbagi 3, yaitu harakat dhammah, seperti harakat dhammah pada huruf ت, dalam contoh نَصَرْتُ. Yang kedua adalah harakat Fathah, contoh seperti harakat pada huruf ت, dalam contoh نَصَرْتَ, kemudian yang ketiga ialah harakat kashrah. Contoh seperti harakat kashrah pada huruf ت, dalam contoh نَصَرْتِ.

Di antara isim yang hukumnya mabni.

1.isim isim syarat, isim tersebut hukum nya mabni, sebab menyerupai kalimat huruf, dalam ma’na nya. Sedangkan hukum kalimat huruf, ialah mabni.

2.isim istifham, contoh seperti ْمَنْ عِنْدَكُم, yang jadi contoh ialah lafadz من, lafadz tersebut termasuk kalimat isim, tanda isim nya ialah musnad ilahi. Hukum nya mabni, sebab menyerupai kalimat huruf dalam ma’na, mabni nya termasuk mabni sukun. Kemudian lafadz من, kedudukan nya sebagai Mubtada’, yang khabarnya lafadz عندكم.

3.Isim dhamir termasuk mabni.

Menurut kitab الفواكه الجنية, halaman ke ke 28, bahwa isim dhamir terbagi menjadi dua yaitu;

-yang pertama ialah dhamir muttasil, definisi nya “الذي لايفتتح به النطق ولايقع بعد الا”. Artinya “setiap kalimat isim yang tidak bisa di ucapkan pada awal perkataan, dan tidak berada setelah lafadz الا”. Contoh seperti huruf ت pada lafadz قمت, lafadz tersebut (ت) termasuk kalimat isim, isim nya termasuk isim dhamir. Tanda isim nya ialah musnad ilaihi, sebab di antara tanda Kalimat isim dalam kitab alfiyah musnad ilahi;
بالجر والتنوين والندا وال#ومسند للاسم تمييز حصل

-kemudian yang ke dua ialah dhamir munfasil, definisi dari pada dhamir munfasil “ما يفتتح به النطق ويقع بعد الا”. “Setiap isim yang bisa di ucapkan di awal ucapan, dan syah berada setelah huruf الا”. Contoh seperti أنا قائم, yang jadi contoh ialah lafadz أنا, lafadz أنا, termasuk kalimat isim, isim nya termasuk isim dhamir, kedudukan nya sebagai Mubtada’. Yang i’rabnya misti rafa’, sebab i’rab dhamir munfasil terbagi menjadi 3, yaitu rafa’, seperti tadi “أنا قائم”, kemudian nashab, dan juga i’rab khafadz.
[8/6 19:11] P: Isim dhamir termasuk mabni menurut kitab الفواكه الجنية, illat mabni nya ialah menyerupai kalimat huruf dalam ma’na nya.

https://tokopedia.link/fRAGf0JYGqb

Hukum dalam kalimat isim

Hukum dalam kalimat isim menurut ilmu nahwu, dalam kitab الفواكه الجنية, terbagi dua, yang pertama hukumnya mu’rab. Seperti isim zahir, contoh قام زيد, yang jadi contoh lafadz زيد, untuk i’rabnya lafadz tersebut termasuk i’rab harakat. Sebab lafadz tersebut termasuk isim mufrad, juga kedudukan nya sebagai fa’il, yang i’rabnya rafa’, di tandai rafa’nya dengan dhammah. Dalil nya dalam kitab jurumiyah yaitu;


فأما الضمة فتكون علامة للرفع فى أربعة مواضع فى الإسم المفرد وجمع التكسير وجمع المؤنث السالم والفعل المضارع الذي لم يتصل بأخر شيء

Yang kedua ialah isim yang hukumnya mabni, entah itu mabni harakat, seperti harakat Fathah pada isim istifham lafadz أَيْنَ. Yang jadi contoh mabni harakat nya ialah harakat Fathah pada huruf nun, atau pun mabni sukun seperti lafadz مَنْ.

Hukum dalam kalimat isim menurut kitab الفواكه الجنية.

Seperti yang telah di jelaskan sebelumnya, dalam kitab الفواكه الجنية, pada halaman ke 8 bahwa isim dalam hukum nya terbagi dua, yaitu;

1.isim yang hukumnya mu’rab, definisi dari pada isim mu’rab “ما تغير أخره بسبب العوامل الداحلة عليه إما لفظا وإما تقديرا”. Kalimat isim yang berubah akhirnya, entah itu perubahan pada harakat, atau pun huruf, yang di sebabkan oleh a’mil yang masuk pada kalimat tersebut.

Perubahan nya entah itu Lafadzan, atau pun perubahan yang bersifat takdiran, contoh Lafadzan, seperti lafadz زيد pada contoh قام زيد. Untuk i’rabnya lafadz tersebut (زيد) termasuk i’rab rafa’, yang di rafa’kan oleh a’mil yang sebelumnya, di tandai dengan dhammah. Sebab kedudukannya sebagai fa’il, yang fi’il nya lafadz قام. Contoh perubahan isim yang hukumnya mu’rab, secara takdirnya, seperti lafadz موسى.

I’rab kalimat isim terbagi 3, yaitu i’rab rafa’seperti lafadz زَيْدٌ, kedua i’rab nashab, seperti زيدًا, ketiga i’rab khafadz seperti زيدٍ.

2.isim yang hukumnya mabni, defi nya ialah “مالا يتغير أخره بسبب العوامل الداحلة عليه”. “Isim yang tidak berubah akhir pada kalimat tersebut, meskipun isim tersebut di masuki a’mil”. Contoh seperti lafadz أين.

https://tokopedia.link/1SR1e3wZpqb

Sukun menjadi asal mabni

Hukum kalimat (kalimat isim, dan juga fi’il) dalam bahasa Arab terbagi 2, yaitu mu’rab dan juga mabni. Namun yang akan di bahas di sini adalah kalimat yang hukumnya mabni. Adapun harakat yang menjadi asal pada kalimat dalam bahasa Arab yang hukumnya mabni, ialah sukun. Di antara dalilnya, bahwa Sukun menjadi asal mabni, ialah dalam kitab alfiyah pada bait;
والأصل فى المبني أن يسكن

Sukun menjadi asal mabni

Bait tersebut menjelaskan “asal dari pada kalimat yang hukumnya mabni ialah sukun”. Entah itu kalimat fi’il, contoh seperti أُنْصُرْ, atau pun kalimat isim, atau pun kalimat huruf. Sebab kalimat yang hukumnya mabni, dalam mabni nya terbagi dua yaitu, mabni harakat, dan juga mabni sukun. Namun yang menjadi asal pada kalimat (isim, fi’il, huruf) yang mabni ialah sukun.

Definisi dari pada kalimat yang hukumnya mabni, menurut kitab الفواكه الجنية, ialah لزوم أواخر الكلم حركة اوسكونا. “Tetapnya (tidak berubah) akhir pada suatu kalimat dalam harakat dan juga sukun. Contoh kalimat yang mabni sukun, seperti pada fi’il amar mufrad mudzakar, contoh أُنْصُرْ, contoh mabni harakat, seperti حَيْثُ.

Dalil Sukun menjadi asal mabni.

Di antara dalilnya, bahwa asal pada kalimat yang mabni, ialah sukun, dalam kitab الفواكه الجنية. Halaman 9, yaitu “والأصل فى المبني أن يبنى على السكون”, artinya “asal dalam kalimat yang mabni ialah sukun”. Kemudian juga di antara dalilnya adalah dalam kitab alfiyah dalam bait ke 21, pada satar ke dua yaitu; والأصل فى المبني أن يسكن.

Mabni puru’.

Setelah kita mengetahui dari asal pada kalimat yang mabni, selanjutnya kita akan mengetahui puru’ (dahan, atau cabang) mabni. Di antara puru’ dalam kalimat bahasa Arab yang hukumnya mabni, ialah mabni harakat. Jumlah harakat nya ada 3 yaitu dhammah, Fathah, kashrah, contoh kalimat yang mabni nya harakat dhammah. Seperti zaraf makan, lafadz حَيْثُ, contoh mabni Fathah, seperti isim istifham lafadz أَيْنَ, contoh mabni kashrah, seperti lafadz اَمْسِ. Yang jadi contoh mabni dhammah ialah harakat huruf “ث” pada lafadz حيث.

https://tokopedia.link/r6GFC7xZpqb

Dalil mudhari dihukumi mu’rab

Seperti yang telah di ketahui, bahwa hukum kalimat fi’il menurut ilmu nahwu terbagi dua, yaitu mu’rab dan juga mabni. Adapun fi’il yang hukumnya mu’rab ialah fi’il mudhari yang huruf akhir pada mudhari tidak bertemu dengan apapun. Untuk Dalil mudhari dihukumi mu’rab, yaitu pada kitab alfiyah, dalam bait;


واعربوا مضارعا إن عريا
من نون التوكيد مباشر ومن*نون إناث كيرعن من فتن

Dalil mudhari dihukumi mu'rab

Bait tersebut menjelaskan, bahwa fi’il mudhari dalam hukum nya ialah mu’rab, jika fi’il mudhari tersebut tidak bertemu dengan nun taukid mubasir. Dan juga nun jamak muannas, contoh seperti ينصر, untuk hukum nya, lafadz tersebut ialah mu’rab. Sebab lafadz tersebut (ينصر) kosong dari nun taukid mubatsir, dan juga nun jamak muannas.

Namun jika fi’il Mudhari bertemu dengan nun taukid mubatsir, atau nun jamak muannas, maka hukum fi’il mudhari tersebut menjadi mabni. Contoh fi’il mudhari yang bertemu dengan nun taukid mubatsir, seperti هل تقومن, yang jadi contoh lafadz تقومن, lafadz tersebut termasuk dalam kategori Kalimat fi’il. Fi’il nya termasuk fi’il mudhari, untuk hukumnya lafadz tersebut, ialah di hukumi mabni. Sebab mudhari tersebut bertemu dengan nun taukid mubatsir, untuk mabni nya termasuk mabni sukun.

Contoh fi’il mudhari yang bertemu dengan nun jamak muannas, seperti يرعن من فطن, yang jadi contoh lafadz يرعن.

Untuk i’rabnya fi’il mudhari yang di hukumi mu’rab terbagi dua, yang pertama di i’rabi oleh huruf seperti ينصران, yang kedua ialah fi’il mudhari i’rabnya oleh harakat, contoh seperti ينصر.

Fi’il mudhari yang di i’rabi oleh harakat, dalam harakat nya terbagi 3, yaitu harakat dhammah, seperti ينصر, kemudian harakat Fathah. Dan juga harakat sukun, seperti لم ينصر, harakat dhammah menjadi tanda pada i’rab rafa’, kemudian Fathah menjadi tanda pada i’rab nashab. Selanjutnya harakat sukun menjadi tanda pada i’rab jazm.

Dalil mudhari dihukumi mu’rab

Di antara dalilnya yang di pakai buat sandaran, bahwa fi’il mudhari hukumnya mu’rab, ialah dalam kitab alfiyah, dalam bait واعربوا مضارعا.. كيرعن من فتن.

https://tokopedia.link/1SR1e3wZpqb

Ketentuan fi’il dalam alfiyah

Adapun bait yang menjelaskan Ketentuan fi’il dalam alfiyah, ialah pada bait

فعل مضارع يلى لم كيشم

وماضي الأفعال بالتا مز وسم*بالنون فعل الأمر إن أمر فهم

Seperti yang telah di ketahui bahwa kalimat dalam bahasa Arab terbagi 3 yaitu kalimat fi’il, isim, dan juga kalimat huruf. Di antara dalilnya ialah dalam matan jurumiyah, yaitu; وأقسامه ثلاثة إسم وفعل وحرف جاء لمعنى. Namun yang akan di bahas di sini ialah kalimat fi’il, juga kalimat fi’il terbagi 3, yaitu fi’il madhi, seperti نصر. Kemudian fi’il mudhari seperti ينصر, terus yang terakhir yaitu fi’il amar seperti أنصر.

Ketentuan fi'il dalam alfiyah

Untuk membedakan di antara ketiga fi’il tersebut ialah dengan masing-masing tanda, sebab di antara ketiga fi’il tersebut memiliki tanda yang berbeda-beda. Kemudian fi’il juga memiliki 3 zaman, yaitu zaman madhi, kemudian zaman hal, dan juga zaman istikbal.

Ketentuan fi’il dalam alfiyah (masing-masing 3 fi’il tersebut memiliki tanda yang berbeda).

Di antara tanda fi’il mudhari menurut alfiyah ialah syah di masuki a’mil jawazim. Jumlah a’mil jawazim menurut kitab jurumiyah ada 18 yaitu, لم، لما، الم، الما، لام امر،لام الدعاء، لانهي، لادعاء، ان، ما، مهما،اذ، اذما،اي، متى، اين، ايان، انى، حيثما،كيفما،اذا. Jika menurut kitab jurumiyah, tanda dari pada fi’il mudhari, ialah ماكان فى أوله إحدى الزوائد الأربع “setiap fi’il yang di awali dengan salah satu dari huruf jaidah yang 4”.

Yang di maksud dengan huruf jaidah yang 4 ialah Hamzah, seperti أنصر, kemudian nun, seperti ننصر, terus ya, seperti تنصر. Kemudian yang terakhir huruf jaidah yang menjadi tanda pada fi’il mudhari ialah huruf ta, contoh seperti تنصر.

Selanjutnya fi’il amar, untuk cara mengetahui bahwa fi’il tersebut adalah fi’il amar, terlebih dahulu kita harus mengetahui tanda fi’il amar. Adapun di antara tanda fi’il amar menurut alfiyah ialah syah di masuki nun taukid. Contoh seperti انصرن.

Kemudian di antara tanda fi’il madhi, menurut kitab alfiyah ialah fi’il tersebut syah di masuki ta. Yang di maksud dengan ta di sini ialah ta dhamir, seperti نَصَرْتُ, dan juga ta ta’nis sukun, contoh seperti نَصَرَتْ.

https://tokopedia.link/Ri6qPB1qmqb

Sifat Allah wajib diketahui

Menurut kitab tijan ad-darori, bahwa Sifat Allah wajib diketahui oleh orang yang sudah termasuk dalam kategori mukallaf. Entah itu sifat Allah SWT yang sifatnya wajib, atau yang sifatnya mustahil, dan juga sifat yang jaiz. Di antara Tanda bahwa orang tersebut sudah mukallaf ialah yaitu beragama Islam, kemudian sudah memasuki usia baligh, Kemudian memiliki akal sehat, atau akalnya normal.

Sifat Allah wajib diketahui

Adapun hukum mengetahui sifat-sifat Allah SWT tersebut bagi seorang mukallaf ialah wajib a’in. Jumlah sifat-sifat Allah SWT dari sifat wajib, kemudian sifat mustahil, kemudian jaiz itu ada 41 sifat. Untuk rincian nya ialah 20 yang sifat nya wajib, kemudian 20 yang sifatnya mustahil pada Allah SWT, terus sifat yang jaiz nya 1.

Jumlah 20 Sifat Allah wajib diketahui bagi mukallaf, yang sifat wajibnya pada Allah SWT.

1.sifat wujud, artinya “Allah SWT itu ada”. 2.qadim, ma’na dari pada sifat qadim ialah “adanya Allah SWT tidak ada awal nya”. 3.allah di sifati oleh sifat baqa, untuk ma’na nya “adanya Allah SWT tidak ada akhirnya”. 4.mukhalafatul lilhawaditsi, ma’na sifat tersebut ialah “Allah SWT tidak menyerupai mahkluk ciptaan nya”.

5.sifat qiyamuhu bi nafsihi, ma’na nya “tidak membutuhkan mahal (tempat), dan juga tidak membutuhkan mukhassis (yang mengadakan, atau menciptakan). 6.wahdaniyah. 7.sifat qudrat, ma’na nya “Allah SWT maha berkuasa. 8.allah swt di sifati oleh sifat iradah, ma’na sifat tersebut “maha berkehendak”. 9.sifat ilmu, ma’na nya ialah “Allah SWT maha mengetahui”. 10.sifat hayyu.

11.sifat sama’. 12.allah di sifati oleh sifat bashar. 13.sifat kalam. 14.sifat qadiran. 15.allah swt di sifati oleh sifat muridan. 16.sifat a’liman. 17.hayyan. 18.sifat sami’an. 19.sifat bashiran 20.sifat mutakaliman.
Kemudian yang satu lagi sifat pada Allah SWT yaitu sifat jaiz. Jadi Allah SWT di sifati oleh sifat jaiz.

Sifat wajib pada Allah SWT yang 20 itu terbagi empat, yang pertama sifat nafsiyah, kemudian yang kedua ialah sifat salabiyah. Terus yang ketiga adalah sifat ma’ani, selanjutnya yang ke empat ialah sifat ma’nawiyah.

https://tokopedia.link/O8zdBqWqmqb

Bacaan hamdalah menurut nahwu

Ma’na dari pada hamdalah ialah memujinya, atau bersyukur nya seorang hamba kepada penciptanya, yaitu Allah SWT. Biasanya basmalah sering di ucapkan oleh seorang muslim ketika mendapatkan ni’mat. Adapun penjelasan Bacaan hamdalah menurut nahwu, ialah menjelaskan tentang i’rab dan juga kedudukan dari kalimat tersebut. Kemudian bacaan dari pada hamdalah ialah الحمد لله رب العالمين

Jadi yang akan di bahas oleh ilmu nahwu pada bacaan hamdalah ialah 4 lafadz. Yaitu lafadz الحمد, kemudian lafadz لله, terus رب, selanjutnya lafadz العالمين.

Bacaan hamdalah menurut nahwu

Penjelasan 4 lafadz pada Bacaan hamdalah menurut nahwu.

1.lafadz الحمد, lafadz ini termasuk dalam kategori Kalimat Isim, tanda isim nya ialah alif lam, kemudian untuk i’rabnya ialah i’rab rafa’. Tanda rafa’nya dhammah, sebab kedudukannya sebagai Mubtada’, untuk Mubtada’nya termasuk dalam Mubtada’isim Zahir. Sebab Mubtada’ bahan untuk membuat nya terbagi dua yaitu bisa di buat dari isim zahir, dan juga bisa di buat dari isim dhamir.

2.lafadz لله, lafadz tersebut kedudukannya sebagai khabar ghair mufrad dari Mubtada’ lafadz الحمد. Sebab khabar terbagi dua yaitu khabar mufrad dan juga khabar ghair mufrad. Adapun di antara khabar ghair mufrad ialah Khabar yang bentuk lafadz nya dari susunan jar majrur.

Kemudian lafadz الله pada lafadz لله untuk i’rabnya ialah termasuk i’rab khafadz. Yang di tandai khafadz nya dengan kashrah, adapun a’mil yang mengkhafadkan nya ialah huruf jar, yaitu huruf lam.

3.lafadz رب termasuk dalam kategori Kalimat isim, yang di tandai isim nya dengan tanwin. Kemudian kedudukan lafadz tersebut sebagai na’at dari lafadz الله. Juga lafadz tersebut (رب) kedudukan nya sebagai mudhaf, yang memiliki a’mal mengkhafadkan mudhaf ilaihi nya.

4.kemudian yang terakhir ialah lafadz العالمين, lafadz tersebut kedudukannya sebagai mudhaf ilaihi dari lafadz رب. Untuk i’rabnya lafadz tersebut ialah i’rab khafadz yang di tandai khafadz nya dengan ya, sebab lafadz tersebut termasuk dalam kalimat jamak mudzakar. Dalilnya Kalimat jamak mudzakar ketika i’rabnya khafadz di tandai dengan ya dalam kitab jurumiyah yaitu;

واماالياء فتكون علامة للخفض فى ثلاثة مواضع فى الأسماء الخمسة وفى التثنية والجمع

https://tokopedia.link/Hm0HVKR68pb

Istighfar menurut nahwu Sharaf

Ma’na dari pada istighfar adalah meminta, atau memohon ampunan dari semua dosa kepada Allah SWT. Adapun Pengertian Istighfar menurut nahwu Sharaf ialah menjelaskan i’rab, pada kalimat tersebut. Misalnya i’rab pada lafadz istighfar termasuk dalam i’rab apa, apakah i’rab rafa’, atau nashab, atau lain sebagainya. Juga menjelaskan tentang kedudukan lafadz tersebut dan juga bentuk dari pada kalimat tersebut. adapun bacaan dari pada istighfar tersebut yaitu;
استغفر الله العظيم

Jadi kalimat pada bacaan istighfar tersebut yang akan di bahas ialah 5 lafadz, yaitu lafadz استغفر، kemudianالله، dan juga lafadz العظيم.

Istighfar menurut nahwu Sharaf

Penjelasan 3 lafadz pada bacaan Istighfar menurut nahwu Sharaf.

1.lafadz استغفر, menurut ilmu nahwu lafadz tersebut termasuk dalam kategori Kalimat fi’il. Fi’il nya termasuk fi’il mudhari, sebab fi’il terbagi 3 yaitu fi’il madhi, kemudian fi’il mudhari, dan juga fi’il amar. Untuk dalilnya dalam kitab jurumiyah yaitu;

الأفعال ثلاثة ماض ومضارع وأمر

Setiap fi’il tentu ada fa’il, yang jadi fa’il nya pada lafadz استغفر ialah dhamir muttasil mustatir, takdir fa’il nya ialah أنا (mutakalim wahdah). Sebab fa’il terbagi dua yaitu fa’il isim zahir dan juga fa’il isim dhamir, kemudian fa’il yang di bentuk dari isim dhamir terbagi 2 yaitu dhamir muttasil, dan juga dhamir munfasil.

kemudian menurut ilmu sharaf lafadz tersebut termasuk dalam fi’il salim. Lafadz tersebut termasuk fi’il mudhari tsulatsi Mazid bagian ketiga, yaitu jumlah huruf jaidah 3, untuk ma’na nya ialah mutakalim wahdah. Adapun tanda fi’il mudhari pada lafadz tersebut ialah di awali dengan salah satu dari huruf tanda mudhari yaitu Hamzah.

2.lafadz الله, kedudukan lafadz tersebut menjadi maf’ul bih dari fi’il, dan fa’il lafadz استغفر. Juga lafadz tersebut (الله) termasuk kalimat isim, yang hukumnya mu’rab untuk i’rabnya nashab, di tandai dengan Fathah.

3.yang terakhir ialah lafadz العظيم, untuk i’rabnya nashab, sebab kedudukannya sebagai na’at dari lafadz الله. Lafadz tersebut termasuk kalimat isim yang di tandai isim nya dengan alif lam.

https://tokopedia.link/Hm0HVKR68pb

Hukum mengerjakan shalat ied

Hukum mengerjakan shalat ied bagi seorang muslim ialah Sunnah, entah itu idul Fitri, atau pun idul Adha. Juga shalat Ied ini termasuk dalam kategori Sunnah muakkad, arti dari kata muakkad ialah “shalat Sunnah yang sangat di anjurkan”.

Hukum mengerjakan shalat ied

Adapun di antara perbedaan idul Fitri dan idul adha ialah, jika idul Fitri di lakukan setelah berpuasa ramadhan. Atau tepatnya shalat idul Fitri di kerjakan pada tanggal 1 bulan Syawal. Kemudian jika shalat idul adha ialah shalat yang di kerjakan pada bulan Dzulhijjah.

Adapun waktu untuk melaksanakan shalat Ied, ketika matahari sudah terbit, kemudian waktu sudah habisnya untuk shalat ialah di tandai dengan tergelincir nya matahari.

Dan juga dalam melaksanakan shalat Ied, entah itu idul Fitri, atau idul adha harus dilakukan secara berjamaah. Jumlah raka’at shalat Ied ialah dua raka’at, dengan 7 kali takbir pada raka’at pertama selain takbiratul ihram. Kemudian 5 kali takbir pada raka’at kedua, jadi jumlah 13 kali takbir selain takbiratul ihram.

Cara melaksanakan shalat Sunnah Ied.

1.berdiri bagi yang mampu, jika tidak sanggup berdiri, maka bisa dilakukan sambil duduk.

2.niat melaksanakan shalat Ied, entah itu idul Fitri, atau pun idul Adha. Jika shalat nya idul Fitri, maka niat untuk shalat idul Fitri, kemudian jika shalat nya idul adha maka niatnya idul adha.

3.bertakbiratul ihram pada raka’at pertama.

4.membaca du’a iftitah setelah takbiratul ihram.

5.bertakbir 7 kali pada raka’at pertama.

6.bertakbir 5 kali pada raka’at kedua.

Nah itulah penjelasan tentang Hukum mengerjakan shalat ied bagi mukallaf

https://tokopedia.link/Hm0HVKR68pb

Mukallaf melaksanakan shalat Jum’at

Di antara syarat syah shalat Jum’at menurut kitab Fathul qarib yaitu harus mukallaf. Juga Mukallaf melaksanakan shalat Jum’at harus berjumlah 40 orang, yang 40 orang ini harus memenuhi 4 kriteria. Yaitu mukallaf, kemudian lelaki, terus merdeka, selanjutnya syarat yang terakhir dari 40 orang itu harus bertempat tinggal tetap.

Kemudian syarat wajib shalat Jum’at menurut kitab Fathul qarib ada 7 hal;
(فصل)(وشرائط وجوب الجمعة سبعة اشياء الإسلام والبلوغ والعقل)..الخ

1.wajib bagi setiap orang yang beragama Islam.
2.sudah mencapai masa baligh, adapun di antara tanda baligh dari pada laki-laki, menurut kitab safinatunnajah yaitu ketika sudah mencapai usia 15 tahun.

3.harus berakal normal. Syarat yang ketiga ini berlaku bukan hanya untuk shalat Jum’at saja. Akan tetapi berlaku juga untuk shalat selain shalat Jum’at, seperti shalat fardhu Maghrib, dan juga berlaku untuk shalat Sunnah.


4.orangnya harus merdeka.
5.dalam kondisi sehat.

6.mukim, yang di maksud dengan mukim ialah orang yang bertempat tinggal tetap. Yaitu orang yang tidak berpindah ke suatu tempat karena musim hujan, atau musim kemarau. Terkecuali keluar sebentar karena suatu keperluan.

Kemudian syarat syah shalat Jum’at ada 3, yaitu;

1.ada tempat untuk dilaksanakan shalat Jum’at.

2.yang hadir pada shalat Jum’at tersebut harus ada 40 orang, atau lebih, jadi yang 40 orang ini harus memenuhi 4 kriteria yaitu mukallaf, lelaki, merdeka, dan juga bertempat tinggal tetap.

3.di kerjakan nya harus di lakukan pada waktu Dzuhur.

Selanjutnya fardhu dari pada shalat Jum’at ada 3, yang pertama dan kedua ialah dua khutbah. Kemudian yang ketiga adalah ialah shalat Jum’at nya harus dua raka’at, dan juga harus berjamaah.

Kesimpulan dari penjelasan Mukallaf melaksanakan shalat Jum’at menurut kitab Fathul qarib.

seperti yang telah jelaskan sebelumnya bahwa di antara syarat syah shalat Jum’at ialah harus berjumlah 40 orang yang hadir atau lebih. Selain itu juga yang 40 orang ini harus termasuk dalam kategori mukallaf, kemudian lelaki, dan lain sebagainya.

https://tokopedia.link/Hm0HVKR68pb